1. Historiografi Tradisional
Historiografi tradisional adalah tulisan sejarah yang berkembang dari masa Kerajaan Hindu-Buddha, masuknya Islam di Indonesia, hingga masa Kerajaan-Kerajaan Islam. Karya-karya ini mencerminkan kepentingan istana dan keagamaan pada zamannya.
Ciri-ciri utamanya meliputi:
Istana-sentris: Penulisan berpusat pada kehidupan raja, istana, dan penguasa, mengabaikan peran rakyat biasa.
Religiosentris: Memiliki unsur kepercayaan dan agama yang kuat. Sejarah seringkali dihubungkan dengan legitimasi penguasa yang dipercaya memiliki karisma atau hubungan dengan kekuatan gaib.
Anakronis dan Bercampur Mitos: Fakta sejarah seringkali disisipi dengan unsur mitos, legenda, atau hal-hal yang tidak sesuai dengan urutan waktu (anakronis).
Kedaerahan: Fokus utama penulisan hanya pada sejarah satu wilayah, dinasti, atau kerajaan tertentu.
Contoh dari historiografi tradisional adalah Babad Tanah Jawi, Kitab Negarakertagama, dan Hikayat Raja-Raja Pasai.
2. Historiografi Kolonial
Historiografi kolonial adalah penulisan sejarah yang berkembang selama masa Kolonial Belanda, yaitu sejak zaman VOC pada abad ke-17 M hingga Pemerintahan Hindia Belanda pada abad ke-20 M. Ciri utama dari penulisan ini adalah dominasi sudut pandang penjajah.
Ciri-ciri utamanya adalah:
Neerdelandosentris atau Eropasentris: Sejarah ditulis berpusat pada kepentingan, aktivitas, dan peran bangsa Belanda atau Eropa.
Diskriminatif: Penulisan cenderung bersikap diskriminatif terhadap rakyat Hindia Belanda (pribumi), menggambarkan mereka sebagai pihak yang pasif atau seringkali menjadi masalah.
Fokus pada Penguasa Belanda: Menekankan pada tokoh-tokoh penting, kebijakan, dan institusi dari pihak kolonial.
Mengabaikan Sumber Lokal: Cenderung lebih mengandalkan sumber-sumber dari arsip dan catatan resmi Belanda, mengesampingkan perspektif dan sumber sejarah lokal.
Contoh karya historiografi kolonial termasuk Geschiedenis van Nederlandsch-Indie (1939) karya F. W. Stapel dan De Atjeher (1893) karya Snouck Hurgronje.
3. Historiografi Modern
Historiografi modern merupakan bentuk penulisan sejarah yang muncul sebagai koreksi mendasar terhadap historiografi kolonial. Menurut Sartono Kartodirjo, historiografi ini menempatkan rakyat Indonesia sebagai pelaku sejarah dari sejarahnya sendiri dengan menerapkan studi kritis.
Ciri-ciri utamanya meliputi:
Indonesia-sentris: Sejarah ditulis dari sudut pandang kepentingan nasional dan perspektif bangsa Indonesia, bukan lagi Eropa.
Bersifat Metodologis: Penulisan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah, menerapkan studi kritis, dan melalui tahapan penelitian sejarah yang ketat.
Munculnya Peranan Rakyat Kecil: Fokus tidak lagi terbatas pada tokoh elite, tetapi juga mengedepankan peran masyarakat biasa (rakyat kecil) sebagai penggerak peristiwa sejarah.
Contoh karya penting adlam historiografi modern adalah Pemberontakan Petani Banten karya Sartono Kartodirdjo dan Revolusi Pemuda karya Benedict Anderson. g.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar