ABSSBK: Ketika Adat Minang "Ngobrol" Bareng Agama

Halo Dunsanak (Saudara)! Pernah dengar tentang filosofi keren orang Minangkabau? Itu lho, yang bunyinya panjang, "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" atau biasa disingkat ABSSBK.

Mungkin kedengarannya seperti pepatah berat. Tapi, intinya simpel dan sangat mendalam: Adat itu berlandaskan Syariat Islam, dan Syariat Islam itu berlandaskan Kitab Allah (Al-Qur'an).

Bayangkan begini: di Minang, adat dan agama itu seperti dua sahabat karib yang enggak bisa dipisahkan. Adat-istiadat kita yang unik, seperti sistem kekerabatan matrilineal (garis keturunan dari ibu) dan berbagai upacara, harus sejalan, bahkan tunduk, pada ajaran Islam. Kalau adatnya "nabrak" aturan agama, ya harus direvisi!

Asal-Usul "Perjodohan" Adat dan Syarak

Nah, kok bisa sih adat dan agama jadi satu paket begini? Ini dia bagian sejarahnya yang seru!

Duluuu sekali, sebelum Islam benar-benar mengakar di Minangkabau, adat sudah kuat banget. Ada sistem pemerintahan, hukum, dan tata cara hidup yang diwariskan turun-temurun. Singkatnya, semua orang hidup dengan adat yang disebut "Adat Nan Sabana Adat".

Masuknya Islam ke Ranah Minang terjadi secara bertahap, dibawa oleh para ulama dan pedagang. Awalnya, ada semacam "perang dingin" antara kubu pemegang adat (biasanya para pemangku adat, atau Niniak Mamak) dengan kubu pembaru yang membawa Syariat Islam (para Alim Ulama).

Para ulama merasa, beberapa praktik adat tidak sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya, soal hukum waris yang di Minang sebagian besar diwariskan ke perempuan (harta pusaka), yang mana sedikit berbeda dengan hukum waris Islam (Faraidh).

Ketegangan ini mencapai puncaknya di awal abad ke-19, terutama saat terjadi Perang Padri. Perang ini awalnya adalah konflik internal antara Kaum Adat dan Kaum Padri (kelompok ulama reformis) yang ingin "membersihkan" adat dari hal-hal yang bertentangan dengan Islam.

Untungnya, konflik ini enggak berakhir dengan pertumpahan darah saja. Para tokoh adat dan ulama akhirnya sadar: pertikaian hanya akan merugikan masyarakat. Mereka memutuskan untuk duduk bersama dan mencari titik temu.

Titik Terang di Bukit Marapalam

Momen penting itu terjadi dalam sebuah musyawarah besar yang dikenal sebagai Piagam Bukit Marapalam (ada yang menyebutnya di Bukik Marapalam atau Pagaruyung).

Di sinilah lahir sebuah kesepakatan agung yang menjadi kunci hidup orang Minang hingga sekarang. Bunyinya kurang lebih, "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah."

Artinya, para Niniak Mamak (pemimpin adat) dan Alim Ulama (pemimpin agama) telah bersepakat untuk menyelaraskan adat dengan Islam. Adat tidak lagi berdiri sendiri, tapi menjadi cerminan dari Syariat.

Sejak saat itu, orang Minang punya panduan hidup yang utuh:

Syariat Islam (Al-Qur'an dan Sunnah) adalah sumber hukum paling tinggi.

Adat Minangkabau berfungsi sebagai pelaksana, wadah, dan cara untuk mengamalkan Syariat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minang.

Dengan ABSSBK, adat Minangkabau bertransformasi menjadi "Adat Nan Terkawi" atau Adat yang Dikuatkan, karena ia kini punya fondasi yang sangat kuat dan universal, yaitu ajaran Islam.

Kenapa ABSSBK Ini Penting Banget?

Filosofi ini bukan cuma slogan di gapura Sumatera Barat, lho! Ia adalah:

Pedoman Hidup: Semua tingkah laku, mulai dari cara berpakaian, bermusyawarah, sampai memimpin kaum, diatur agar tidak melanggar syariat.

Penjaga Budaya: Adat Minang tetap lestari, tapi sudah "difilter" sesuai nilai-nilai agama.

Penyatu Masyarakat: Ia menciptakan harmoni antara dua kutub kekuatan di Minang: Niniak Mamak (pemimpin adat) dan Alim Ulama (pemimpin agama), yang keduanya wajib bekerja sama demi kemaslahatan umat.

Jadi, kalau kamu melihat orang Minang yang bangga dengan adat dan juga taat beragama, itu adalah buah dari filosofi ABSSBK. Ini bukti kalau budaya lokal bisa berjalan beriringan, bahkan saling menguatkan, dengan ajaran agama. Keren, kan? 

1 komentar: